Seni Menjunjung Adab dalam Berkomunikasi

1

ilustrasi ayah dan anak | pixabay.com

Faqih Ma arif

Faqih Ma arif 

Beijing University of Aeronautics and Astronautics | 601B号房间 | 1号楼, 外国留学生宿舍 | 北京航空航天大学 | 北京市海淀区学院路 | 37學院路, 邮编 |100083 |

Dalam sebuah perjalanan di kereta eksekutif jurusan Jakarta — Yogyakarta terdapat pemuda berusia dua puluhan tahun. Sepanjang perjalanan dia selalu berdiskusi dengan ayahnya, sambil memandang keluar Jendela.

“Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang berlarian”

Satu baris tempat duduk terdapat sepasang keluarga muda yang merasa kasihan terhadap tingkah anak tersebut. Keduanya mencibir bahwasanya tingkah anak itu terlalu berisik dan mengganggu penumpang lainnya.

Kembali pemuda itu membuat suara karena terlalu antusias melihat pemandangan di luar kereta api.

“Ayah lihatlah, awan itu juga berjalan, seolah sedang mengikuti kereta kita!”

Kedua pasangan yang berada satu baris dengan pemuda tersebut nampak sudah tidak sabar untuk menegur si pemuda, dan saatnya pun tiba.

“pak, anak anda terlalu berisik dan mengganggu kami, ada baiknya anak anda segera di bawa ke dokter”

Kemudian sang ayah menampakkan senyum sembari berkata:

“Mohon maaf, anak saya sudah saya bawa ke dokter, baru saja kami pulang dari rumah sakit”.  “Anak saya ini buta sejak lahir, tepatnya hari ini dia dapat melihat kembali untuk pertama kali dalam hidupnya”. Ujar sang Ayah

Seketika suasana pun menjadi hening, tanpa ada pembicaraan lebih lanjut, tanpa permintaan maaf.

Cerita di atas telah dapat disaksikan dari berbagai sumber, saya menelaah intisari ceritanya tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya.
Kisah penuh singkat penuh hikmah ini layak untuk dijadikan renungan kita bersama. Apa saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut?, semoga ulasan ini dapat membantu pembaca memahaminya.

Adol gendhung
Adol gendhung dalam Bahasa jawa berati sebuah sikap yang memperlihatkan kesombongan, yang akibatnya akan bertingkah laku tidak sopan.
Mengambil kisah diatas, tidaklah mudah untuk mengetahui latar belakang seseorang. Ada etika dalam bergaul yang harus kita pegang teguh, menjaga kerukunan, serta ketertiban, terlebih ditempat umum. Apapun sikap yang akan diambil, hendaknya dipikirkan matang terlebih dahulu.

Dalam kajian penyakit hati, kita menjadi kurang hormat kepada orang lain salah satunya karena adanya kesombongan dalam diri. Kita merasa lebih baik, lebih pintar, pandai, lebih kaya, dan lebih dalam segala hal, dengan mudahnya menganggap enteng orang lain yang tidak selevel dengan kita.

Hati-hatilah kalian dari hasad karena sesungguhnya, hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering).” (HR Abu Dawud).

Dalam level ini, biasanya tipe karakter yang demikian akan malu jika apa yang disangka lebih tinggi darinya, atau bahkan meleset dari dugaannya. Kepribadian inipun biasanya mudah tergelincir dalam berbagai hal, jika tidak segera bertobat maka akan menjadi semakin liar dan tersesat, terutama karena pola pikir yang sudah keliru.

Ngono ya ngono, ning aja ngono

Istilah ini seringkali kita dengar jika kita berkomunikasi di daerah, yang mayoritas menggunakan Bahasa jawa, sebagai contoh di Yogyakarta.
Ngono yo ngononing aja ngono berarti merupakan peringatan bagi kita agar tidak berbuat sesuatu yang berlebihan, sehingga akan menimbulkan pemicu masalah baru dengan orang lain.

Dalam cerita diatas, memperingatkan seseorang tentunya harus dengan sopan, biasa diawali dengan “meminta maaf”, atau “mohon ijin”, dan kata pembuka lainnya yang menyejukkan hati.

Jika ini tidak kita terapkan, maka tidak heran ucapan kita dapat melukai perasaan orang lain, siapapun dia. Kita juga dapat melihat betapa banyak usaha yang gagal, hubungan kekerabatan putus, kurang harmonisnya rumah tangga, hingga persilisihan dalam internal keluarga karena satu sama lain tidak menghormati dan empati.

Jika ingin memperingatkan tapi tidak melukai hati, maka peribahasa jawa ini nampaknya bisa menjadi contoh nyata menjunjung etika berkomunikasi.

Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan
Inilah tataran nasehat yang lebih tinggi dari keduanya. Bagaimana memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri kita sendiri.
Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan berarti bukan saudara ataupun kerabat, namun jika dia mati kita akan sangat kehilangan. Kita harus dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, apapun kejadiannya.

“Kenapa kita diajarkan berpuasa?”, salah satunya agar kita dapat mengetahui saudara kita yang kurang beruntung, yang hidupnya pas-pasan, untuk makan saja susah, sehingga terkadang satu hari hanya satu kali makan, atau bahkan harus berpuasa seharian karena tidak ada yang dibeli.

Jika kita kembali ke intisari cerita diatas, menutup pembicaraan yang berlangsung, seorang Ayah memberitahu bahwa puteranya baru sembuh dan dapat melihat setelah menjalani operasi di rumah sakit kepada sepasang penumpang disebelahnya.

Jika kita sebagai penumpang disebelahnya, pastilah akan merasa empati, bukan lagi emosi atau malah bersikap kurang sopan yang justru akan memperkeruh keadaan. Tapi penutupnya mengundang banyak tanya, karena tidak meminta maaf sama sekali setelah mengetahui keadaan sebenarnya.

Perlu saya sampaikan, empati itu sangat penting. Menganggap keadaan orang lain seperti diri kita, akan membuat senantiasa bermuhasabah diri, selalu bersyukur dengan semua yang Allah berikan dalam kehidupan kita.

Jembar Segarane
Memaafkan akan lebih baik dan derajatnya lebih tinggi dari meminta maaf. Bahkan kita diajarkan untuk memaafkan terlebih dahulu sebelum orang yang menyakiti kita meminta maaf.

Jembar segarane berarti berjiwa besar dengan memaafkan. Merujuk cerita di atas menunjukkan bahwa seorang ayah yang menjelaskan dengan sabar kepada sepasang penumpang kereta disampingnya memiliki jiwa yang besar, karena telah memaafkan apa yang telah dilakukan terhadapnya.

Saat ini, kita membutuhkan lebih banyak orang baik, yang dapat memaafkan jauh sebelum orang yang disakiti meminta maaf tanpa harus bertatap muka. Sikap emosional, merasa paling benar, lebih tinggi, adigang adigung adiguna, hanya akan menghapus amal-amalan baik yang telah kita kerjakan.

Jika akhir cerita diatas berakhir happy ending karena sang ayah yang dengan sabar dan memaafkan, tentunya ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS: Asy-Syura: 40.

“Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah SWT”

Akhir kata, semoga ketiga ulasan di atas dapat memberikan gambaran tentang bagaimana sebaiknya kita menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi, terutama dengan orang yang kita kasihi serta orang lain.

One thought on “Seni Menjunjung Adab dalam Berkomunikasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Turki Uji Coba Peluru Kendali Buatan Dalam Negeri

Mon May 18 , 2020
Share […]
Tentang Hiramedia: Seni Menjunjung Adab dalam Berkomunikasi

Sebagai Web/Blog :

  1. 1.Media Informasi : Menyampaikan gagasan, ide dan informasi seputar isu-isu mutakhir sosial politik, khususnya di dunia Islam yang dirangkum dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional.
  2. Media Publikasi : Menerbitkan riset dan penelitian para profesional dan pakar di bidangnya untuk dimanfaatkan masyarakat luas.
  3. Media Edukasi : Menghadirkan berbagai sumber informasi dan bacaan  yang edukatif dan inovatif kepada pembaca dengan prinsip menjunjung tinggi perbedaan dalam bingkai kebinnekaan dan  toleransi sesuai semangat keislaman serta keindonesiaan yang berdasarkan Pancasila.

HIRAMEDIA KONTAK : hiramedia45@gmail.com

Close Ads Here
Close Ads Here