[Fiksi Ramadan] Cahaya Hilal Terbelah di Tirai Bambu

4
Faqih Ma arif

Penulis : Faqih Ma arif 

Beijing University of Aeronautics and Astronautics | 601B号房间 | 1号楼, 外国留学生宿舍 | 北京航空航天大学 | 北京市海淀区学院路 | 37學院路, 邮编 |100083 |

“Hilal telah tampak!”

[Fiksi Ramadan] Cahaya Hilal Terbelah di Tirai Bambu
3 Mei 2020   19:01 Diperbarui: 23 Mei 2020   19:37  39  23 11Lihat fotoIlustrasi hilal | kompas, Purnomo, tribunnews.com

Seorang pemuda yang sedang mengambil kuliah di jurusan kimia itu bergegas menuju Aula KBRI Beijing untuk menyampaikan pesan penting kepada pak Ustadz. Dia adalah Noval, yang menjadi petugas tetap muadzin selama bulan ramadan.

kamu serius?, jangan-jangan itu hilal yang tampak di Indonesia”, ujar Dinda. 

Pak Ustadz mendekatinya dan menanyakan dasar apa yang digunakan untuk mengatakan bahwa hilal telah tampak, keduanya pun terlihat berdiskusi sangat serius.

Hari itu merupakan ramadan ke 29 yang mana umat muslim di seluruh dunia melakukan pemantauan hilal. Kami satu sama lain sibuk untuk memastikan itu, berbagai macam grup mahasiswa muslim menyampaikan berantai dari kedutaan besarnya masing-masing.

Jama’ah shalat tarawih masih menunggu keputusan MUI setempat bersama dengan pak ustadz, kami masih menimbang apakah besok di hari ketiga puluh kami akan tetap melaksanakan puasa ramadan.

“saya kira, apa yang disampaikan oleh Noval bisa dipertimbangkan, karena merujuk kepada surat yang lain dari kedutaan besar negara islam di Tiongkok, secara umum memutuskan untuk mengadakan shalat idul fitri besok, jadi puasa kita hanya 29 hari saja.” Tutur pak ustadz

Seusai berbuka puasa, kami yang biasanya bersantai, kali ini menjalani diskusi yang cukup berat tentang penetapan akhir ramadan.

Sementara pendapat lain datang, mereka yang mempercayai hilal dengan metode rukyat menangguhkan fakta bahwa dihari ke tiga puluh akan dilaksanakan shalat ied berjamaah seperti di Indonesia.

“saat ini adalah summer, jelas nyata semua tampak, cuaca sangat panas, terik matahari disiang hari sangat menyengat tubuh dan kulit. Jika memang hilal tampak, seharusnya kita dapat melihatnya malam ini, namun kenyataannya tidak”. Terang Adanan

Ruangan bergeming, tidak satupun dalam diskusi itu ada yang menjawab, karena alasan yang disampaikan pun sangat logis.


***
Alih-alih menunggu keputusan, pak ustadz pun menjelaskan tentang bagaimana mengambil sikap tentang penentuan akhir ramadan di negara yang mayoritas bukan berpenduduk muslim. Berdasarkan sejumlah Riwayat yang telah disampaikan, untuk negara yang bukan mayoritas islam, maka keputusan penentuan awal dan akhir ramadan dapat mengikuti negara terdekat, dalam hal ini ada Indonesia dan Malaysia.

Keputusan penentuan awal dan akhir ramadan juga merujuk kepada metode yang digunakan, yaitu hisab dan rukyat. Metode hisab mendasarkan pada perhitungan matematis dan astromonis untuk menentukan dimulainya awal bulan dalam kalender hijriyah.

Sedangkan rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, namun menggunakan alat khusus seperti teleskop. Jika telah tampak bulan sabit setelah terjadi ijtimak pada hari tersebut, maka dipastikan keesokan harinya adalah idul fitri.

Diskusi saat itu terhenti oleh Adzan yang dikumandangkan oleh Noval, lalu kami melaksanakan shalat isya berjama’ah.
Ustadz, bagaimana dengan pelaksanaan shalat tarawih, apakah kita akan melaksanakannya?“, “Inshaa Allah kita tidak melaksanakan shalat tarawih malam ini”. ungkap pak ustadz

Saat menyampaikan itu, terlihat raut muka Adanan kurang bahagia, ada rasa kecewa di dalamnya. 

Shalat tarawih malam itu tidak kami laksanakan, karena masih menunggu keputusan yang pasti dan ditetapkan oleh otoritas setempat.

Agung bergegas ke Imam shalat dan menunjukkan pesan dari temannya, seorang WNI yang melaksanakan shalat di salah satu masjid Beijing. Dia menunjukkan pesan bahwa berdasarkan keputusan masjid sekitar di wilayah Beijing, maka besok tetap melaksanakan puasa, sehingga puasa menjadi tiga puluh hari.

“Saya mengikuti otoritas setempat pak ustadz” Adanan menguatkan. Seketika itu jamaah shalat seolah terbagi menjadi dua pendapat.

Tidak lama berselang, penangggungjawab ramadan KBRI kemudian melakukan komunikasi dengan MUI-nya Beijing.

“Jika kita mengikuti MUI Beijing, besok kita tetap melaksanakan puasa ramadan, namun jika kita mengikuti kebijakan lain dari beberapa kedutaan besar yang ada disini, maka besok adalah idul fitri”, ungkap penanggungjawab ramadan

Kamipun semakin bingung, Langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Sambil menunggu, pak ustadz menanyakan kepada tiap jamaah yang terbagi di setiap sudut.

“apakah kalian paham tentang yang didiskusikan?”
“kami tidak paham pak, 29 atau 30 keduanya bagus bagi kami” ujar jamaah bagian sudut kiri
“kami lebih senang jika ramadan berakhir lebih cepat”, ujar jamaah sudut sebelah kanan
“kami akan lebih afdol kalau berpuasa 30 hari”, ujar jamaah bagian tengah
“kami akan bahagia kalau idul fitri tiba ada opor ayamnya”, ujar jamaah barisan depan

“ada-ada saja”, dalam hati pak ustadz. Pak ustadz pun mengambil kesimpulan, bahwasanya sebenarnya yang berbeda hanya dua orang, antara Noval dan Adanan.

Sementara Noval masih terlihat asik dengan gadgetnya, dia bersama dengan rekan-rekannya yang sepaham menunjukkan berbagai bukti kuat terkait dalil sebagai hari ramadan akhir malam itu.

Sedangkan Adanan terlihat bersama dua orang rekannya yang masih kokoh dengan pendapatnya, dia akan tetap berpuasa hingga tiga puluh hari lamanya.

Kesepakatan akhirnya diputuskan bahwa jumlah hari ramadan diserahkan kepada masing-masing jamaah. Karena masing-masing penentuan tersebut memiliki dasar yang kuat.

“Dalam rangka mengambil jalan tengah, pelaksanaan shalat idul fitri akan dilaksanakan setelah jamaah yang menjalankan puasa 30 hari selesai”, tutup pidato penanggungjawab ramadan

Permasalahan penentuan akhir ramadan di luar negeri tidaklah mudah, jika di kita masih berbeda tentang hilal dan rukyat, maka di negara minorotas muslim justru kebijakan diambil berdasarkan pada kondisi negara terdekat.

Noval, Adanan, Agung, pak Ustadz dan jama’ah yang lain masih asik berdikusi sambil menuju ke tempat tinggal masing-masing.

***
Hari ketiga puluh pun tiba, kali ini kami bertakbiran bersama, baik yang menjalankan puasa 29 ataupun 30. Noval mengawal jalannya takbiran di malam itu, sementara Adanan bertugas sebagai penanggungjawab pelaksanaan shalat ied yang akan dihadiri oleh seluruh WNI yang beragama islam di Beijing.

Cahaya hilal terbelah di tirai bambu, merupakan pengalaman yang berharga bagi jamaah saat itu. Peristiwa yang biasanya terjadi di Indonesia juga telah nyata ada di negara lain yang minoritas muslim.

Seusai shalat ied, satu sama lain saling bermaafan. Noval, Adanan, Agung, Pak Ustadz, dan penanggungjawab ramadan berjabat erat, seolah melupakan perbedaan kemarin malam.

Sejak saat itu, Noval mendapat panggilan sebagai hilal tirai dan Adanan sebagai hilal bambu. Persahabatan mereka hinga kini semakin erat, saling melengkapi bagai tirai yang tersusun dari bambu. “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin“.

Semoga bermanfaat
Copyright @fqm2020
References1

4 thoughts on “[Fiksi Ramadan] Cahaya Hilal Terbelah di Tirai Bambu

  1. 🌌 Wow, blog ini seperti petualangan fantastis meluncur ke galaksi dari kemungkinan tak terbatas! 🌌 Konten yang mengagumkan di sini adalah perjalanan rollercoaster yang mendebarkan bagi pikiran, memicu kegembiraan setiap saat. 🎢 Baik itu inspirasi, blog ini adalah harta karun wawasan yang inspiratif! #KemungkinanTanpaBatas Berangkat ke dalam pengalaman menegangkan ini dari pengetahuan dan biarkan imajinasi Anda terbang! 🚀 Jangan hanya menikmati, rasakan sensasi ini! 🌈 Pikiran Anda akan berterima kasih untuk perjalanan mendebarkan ini melalui alam keajaiban yang menakjubkan! 🌍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

PR Kebangkitan Masa Kini dan Masa Depan

Sun May 24 , 2020
Share […]
Tentang Hiramedia: [Fiksi Ramadan] Cahaya Hilal Terbelah di Tirai Bambu

Sebagai Web/Blog :

  1. 1.Media Informasi : Menyampaikan gagasan, ide dan informasi seputar isu-isu mutakhir sosial politik, khususnya di dunia Islam yang dirangkum dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional.
  2. Media Publikasi : Menerbitkan riset dan penelitian para profesional dan pakar di bidangnya untuk dimanfaatkan masyarakat luas.
  3. Media Edukasi : Menghadirkan berbagai sumber informasi dan bacaan  yang edukatif dan inovatif kepada pembaca dengan prinsip menjunjung tinggi perbedaan dalam bingkai kebinnekaan dan  toleransi sesuai semangat keislaman serta keindonesiaan yang berdasarkan Pancasila.

HIRAMEDIA KONTAK : hiramedia45@gmail.com

Close Ads Here
Close Ads Here