Belajar dari Amerika Kala Tepikan Corona

1

Penulis : Faqih Maarif

29 Maret 2020   00:03 Diperbarui: 29 Maret 2020   03:40  908  20 6

Protect yourself and your community from coronavirus with common sense precautions: wash your hands, stay home when sick and listen to the @CDCgov and local health authorities. Save the masks for health care workers. Let’s stay calm, listen to the experts, and follow the science, @BarackObama on twitter sebagai tanggapan pernyataan Presiden Trump (04/03/2020).
Ilustrasi tenaga medis di USA | antaranews.com
Ilustrasi tenaga medis di USA | antaranews.com

Pertama kali sejak diumumkannya virus corona di dunia, Amerika saat ini menjadi Negara dengan jumlah penderita terinfeksi terbesar di dunia. Posisi ini secara resmi menggeser Italia dan China untuk pertama kalinya.

Hingga hari ini Minggu dini hari (29/03/2020) dilaporkan JHU CSSE jumlah penderita di Amerika telah mencapai (112.577) Jiwa, meninggal (1.867) jiwa; menyusul Italia di posisi kedua (86.931) jiwa, meninggal (9.183) jiwa, dan China (81.394) Jiwa dengan korban meninggal (3.295) jiwa.

COVID-19 berbagai negara | ft.com/coronavirus-latest

COVID-19 berbagai negara | ft.com/coronavirus-latest

Kritik tajam pun datang dari berbagai kalangan di dalam negeri. Lantas, seperti apa sebenarnya yang terjadi disana?. Seperti halnya Belanda, AS, dan Inggris, mereka telah mengimpelmentasikan kebijakan terkait dengan Pandemi COVID-19. Mari sedikit kita menyimak tulisan ringan di bawah ini meskipun masih banyak dari sudut pandang lain yang perlu diperhitungkan.

Kronologis pengendalian

Secara cepat pemerintah telah merespon tentang pandemi COVID-19, tapi memang belum diterapkan secara disiplin seperti di negara lain yang telah terlebih dahulu siap seperti Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara di dunia lainnya.

Rabu, 11 Maret 2020

Tercatat pada Rabu, 11 Maret 2020, pemerintah secara resmi telah melakukan pelarangan perjalanan bagi warganya.

Jumat, 13 Maret 2020

Kemudian dua hari berselang, keadaan darurat nasional telah dikeluarkan. Akan tetapi, social distancing tidak diterapkan di negara tersebut.

Senin, 16 Maret 2020

Tiga hari selanjutnya, pasca kebijakan darurat nasional, pemerintah mendorong masyarakatnya untuk menghindari kegiatan publik yang berkerumun dengan Batasan sejumlah sepuluh orang. Sayangnya, social distancing tidak juga diterapkan. Social distancing yang sekarang menjadi physical distancing saat itu hanya sebagai himbauan saja.

COVID-19 di USA | ft.com/coronavirus-latest

COVID-19 di USA | ft.com/coronavirus-latest

Keadaan saat itu di Inggris juga demikian, negara hanya mengeluarkan surat rekomendasi atau himbauan, tapi impelementasinya nihil.

Akibat yang ditimbulkan

Jika kita amati bersama, ada dua kelompok besar negara di dunia dalam menerapkan metode pengendalian dan pencegahan Pandemi COVID-19. Mereka yang menerapkan metode yang ketat dengan lockdown seperti China dan beberapa negara lainnya, dan yang kedua adalah Korea Selatan yang menerapkan pengujian pada rakyatnya dalam jumlah besar tanpa harus lockdown suatu wilayah.

Tidak menentukan sikap (prediksi)

Berikut ini adalah gambaran atau prediksi jika Amerika tidak melakukan usaha dalam upaya pengendalian Pandemi COVID-19.

Pandemic COVID-19 Calculator | gabgoh.github.io/COVID/index.html

Pandemic COVID-19 Calculator | gabgoh.github.io/COVID/index.html

Berdasarkan grafik di atas dapat dianalisis bahwa jika suatu negara tidak menentukan sikap, maka semua orang terkena infeksi, sistem kesehatan di suatu negara menjadi kewalahan menangani lonjakan jumlah pasien. Tidak hanya itu, ternyata berdampak kepada mortalitas yang naik, dengan korban meninggal mencapai 10 juta orang (daerah biru).

Sebagai angka kasar, maka terdapat sekitar 75% populasi di Amerika dapat terinfeksi atau sekitar 245 juta jiwa, dengan rincian 4 persen meninggal dunia (10 juta) seperti contoh kasus di Iran (7.1%), Hubei (3.8%), atau Italia yang sudah mencapai 10 persen saat ini. 

Hal ini diakibatkan oleh karena sistem kesehatan telah melebihi kapasitasnya dengan lonjakkan jumlah pasien yang berada di luar dugaan. Jika ditelusuri, maka bisa diibaratkan bahwa angka kematian ini berkisar 25 kali lipat dari angka kematian di Amerika Serikat pada perang dunia ke II.

Apa yang dimaksud dengan angka pada gambar tersebut di atas?, angka tersebut mengandung arti tentang jumlah orang yang terkena virus dan jatuh sakit (positif), dan jumlah orang yang meninggal, tidak termasuk yang sembuh (recovery).

Dalam hal ini, jika 25 persen dari populasi jatuh sakit (orang positif tapi tidak memiliki gejala, maka tidak dihitung dalam analisis di atas), dengan tingkat kematian kala itu masih berkisar 0.6 persen, bukan 4 persen seperti pada dugaan awal. Sedangkan jumlah kematian adalah sekitar 500 ribu orang di Amerika, meskipun 20 kali lebih sedikit dari pada gambaran di atas, namun angka ini tetaplah besar.

Kondisi aktual (saat ini) saat virus menggeliat

Saat ini, berbagai usaha mulai diperketat termasuk larangan warga untuk keluar dari tempat tinggalnya masing-masing. Berdasarkan pemantauan siaran live kompas siang (28/03/2020), pembatasan di beberapa wilayah Amerika telah dilakukan. Lantas, bagaimana perkembangannya setelah adanya ketegasan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah?.

Sebagai pembanding analisis di atas, penulis menyajikan analisis dengan parameter serupa, kecuali untuk jumlah populasi, jumlah terinfeksi, dan beberapa parameter lain yang diperbandingkan.

Prediksi kondisi aktual | gabgoh.github.io/COVID/index.html

Prediksi kondisi aktual | gabgoh.github.io/COVID/index.html

Grafik di atas menunjukkan kondisi saat ini, dengan lonjakan pasien terinfeksi terbaru ditaksir sekitar 1022 jiwa. Setelah negara menentukan sikap, ternyata warga yang terinfeksi diprediksi akan berkisar 11.36 persen atau 40 juta jiwa (daerah berwarna merah) dengan jumlah kematian yang dapat ditekan sekitar 3.4 persen atau 12 juta jiwa (daerah berwarna biru) jika kebijakan tidak diberlakukan secara cepat dan tepat.

Dari pemantauan daring secara online juga dapat disaksikan data tambahan saat ini diantaranya jumlah pasien masa inkubasi diprediksi akan berjumlah 90 juta jiwa pada hari ke 100.

Sama dengan di atas, jika 25 persen dari populasi jatuh sakit (orang positif tapi tidak memiliki gejala, maka tidak dihitung dalam analisis). dengan tingkat kematian 4 persen. Sedangkan jumlah kematian adalah sekitar 1000 orang per hari di Amerika.

Hal ini berarti bahwa, prediksi yang telah dilakukan sebelumnya mendekati atau sebanding dengan kondisi saat ini. Kebijakan akan berpengaruh besar terhadap jumlah pasien terinfensi dan jumlah pasien meninggal di Amerika.

Trump menyalahkan Obama

Dalam kesempatan sebelumnya pada 8 Maret 2020, presiden mengeluarkan pernyataan mengejutkan sebagai berikut:

“Pemerintahan Obama membuat kebijakan pengujian yang ternyata sangat merugikan apa yang kami lakukan.

“Dan kami mencabut kebijakan itu beberapa hari yang lalu, sehingga pengujian dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih akurat dan cepat” kata Trump dalam sambutan di pertemuan dengan para petinggi maskapai, Rabu (4/3/2020) dilansir dari kompas.com

Pernyataan tersebut kemudian dibantah karena sebenarnya pada waktu itu Obama telah mengusulkan pengawasan lebih terhadap FDA, tapi usulan itu ditolak. Nyatanya, pemerintah sendiri yang dipimpin oleh Trump ternyata mencabut program pemerintah yang menangani krisis seperti COVID-19.

Sebagai contoh pada tahun 2018, Centers for Disease and Prevention (CDC) telah dipangkas anggaranya sebesar 80 persen untuk mencegah wabah penyakit global.

Peran Trump juga semakin kontroversial dengan menyebut bahwa data yang dikeluarkan oleh WHO adalah tidak tepat.

“Aku pikir 3,4 persen (jumlah korban) adalah angka yang salah. Sekarang, ini memang cuma firasatku, tapi juga berdasarkan dari banyak percakapan dengan orang yang melakukan ini.”

“Mereka (para pasien virus corona) akan pulih dengan cepat, bahkan tidak pergi ke dokter atau memanggil dokter.”

Sebagai penutup, nampaknya beberapa alasan inilah yang mungkin menyebabkan Amerika menjadi nomor wahid dalam jumlah kasus positif Pandemi COVID-19 di dunia untuk saat ini. Semoga segera berbenah dan menjadi pelajaran bagi kita semua.

Salam sehat keluarga Indonesia.!

Semoga bermanfaat
Copyright @fqm2020
References 1 2 3 4

Penulis : Faqih Ma arif 

Faqih Ma arif

Civil Engineering: Discrete Element | Engineering Mechanics | Finite Element Method | Material Engineering | Structural Engineering | Beijing University of Aeronautics and Astronautics | 601B号房间 | 1号楼, 外国留学生宿舍 | 北京航空航天大学 | 北京市海淀区学院路 | 37學院路, 邮编 |100083 |

One thought on “Belajar dari Amerika Kala Tepikan Corona

  1. I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Menteri Haji dan Umrah Saudi Minta Umat Islam Menunggu Kejelasan Covid-19 Sebelum Merencanakan Haji

Wed Apr 1 , 2020
Share […]
Tentang Hiramedia: Belajar dari Amerika Kala Tepikan Corona

Sebagai Web/Blog :

  1. 1.Media Informasi : Menyampaikan gagasan, ide dan informasi seputar isu-isu mutakhir sosial politik, khususnya di dunia Islam yang dirangkum dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional.
  2. Media Publikasi : Menerbitkan riset dan penelitian para profesional dan pakar di bidangnya untuk dimanfaatkan masyarakat luas.
  3. Media Edukasi : Menghadirkan berbagai sumber informasi dan bacaan  yang edukatif dan inovatif kepada pembaca dengan prinsip menjunjung tinggi perbedaan dalam bingkai kebinnekaan dan  toleransi sesuai semangat keislaman serta keindonesiaan yang berdasarkan Pancasila.

HIRAMEDIA KONTAK : hiramedia45@gmail.com

Close Ads Here
Close Ads Here