Amerika Serikat Minta PBB Mengawasi Perdamaian di Suriah

Biderson, berada di tengah antara delegasi oposisi dan rezimm dalam diskusi Komite Konstitusi Oktober lalu (Reuters)

Washington miminta agar Perserikatan Bangsa-Bangsa diberikan wewenang untuk memantau setiap perjanjian gencatan senjata di Suriah. Hal itu disampaikan Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Kelly Kraft pada sesi Dewan Keamanan untuk membahas dimulainya kembali jalur perdamaian di sana, ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Rusia Vladimir Putin membahas agenda tersebut melalui telepon.

“Semakin jelas bahwa rezim Bashar al-Assad bertekad untuk mengambil keuntungan dari krisis Corona untuk kepentingan politik dan militernya … Kita harus secara kolektif bertanya bagaimana Dewan Keamanan dapat membantu memulihkan stabilitas di Suriah,” kata Duta Besar Kelly Kraft – Senin, (17/5/2020) seperti dilansir aljazeera.net mengutip kantor berita Anatolia.

Dalam sesi pertemuan dewan Keamanan PBB tersebut, Kraft menambahkan tentang krisis Suriah melalui televisi – bahwa jawabannya terletak pada penguatan semua jejak Resolusi 2254. Selain itu, menurutnya, Dewan harus melakukan upaya untuk memastikan bahwa rezim Assad mencerminkan perilakunya dan menyetujui gencatan senjata yang komprehensif untuk selama-lamanya yang dapat diverifikasi.

Kraft juga menekankan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa harus berada di dalam susbstansi upaya untuk membuat gencatan senjata, dan bahwa utusan khusus PBB selain Pederson memiliki wewenang untuk memantau jalur komunikasi, untuk memastikan penghormatan terhadap gencatan senjata.

Duta Besar AS meminta rezim Suriah untuk segera membebaskan semua tahanan yang dilakukan secara sewenang-wenang sembari memperingatkan bahwa kondisi yang tidak manusiawi di penjara secara signifikan dapat meningkatkan risiko tertular virus – Coronavirus.

Selanjutnya, Biderson mengatakan pada sesi itu bahwa di Provinsi Idlib menyaksikan adanya suasana yang relatif tenang bulan ini, berkat kerja sama Rusia-Turki di lapangan sesuai dengan perjanjian gencatan senjata.

Pederson mengatakan bahwa ketenangan ini diselingi oleh insiden kekerasan, peringatan ” untuk menghindari kembali ke pertempuran sengit dan pelanggaran yang telah kita lihat sebelumnya.”

Dia menganggap penting untuk menyatukan upaya jalur Astana, yang meliputi Turki, Iran dan Rusia, dengan upaya kelompok kecil yang meliputi Inggris, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Mesir, Yordania dan Arab Saudi, di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Biderson menyerukan dimulainya kembali kerja sama internasional secara penuh dan membangun kepercayaan antara pihak internasional dan Suriah. “Saya percaya bahwa dialog Rusia-Amerika memainkan peran utama dalam hal ini,” kata Pederson.

Pejabat PBB itu menyerukan diadakannya sidang komisi mini ketiga untuk Komite Konstitusi di Jenewa, segera setelah kondisi perjalanan global memungkinkannya sembari menjelaskan bahwa solusi krisis tidak terbatas pada pengembangan konstitusi baru.

Resolusi 2254 tanggal 18 Desember 2015 menyerukan semua pihak untuk segera menghentikan serangan terhadap sasaran sipil, dan mendesak anggota Dewan Keamanan untuk mendukung upaya mencapai gencatan senjata.

Sumber-sumber di kepresidenan Turki mengatakan bahwa Erdogan membahas agenda Suriah melalui telepon dengan Putin, selain membahas hubungan bilateral dan urusan regional, cara-cara untuk memerangi virus Corona, dan langkah-langkah yang akan diambil setelah akhir perjuangan melawan virus.

Tahanan dan pengungsi

Sementara itu, pertukaran tahanan terjadi hari ini, Senin (17/5/2020) antara Tentara Nasional Suriah (oposisi) dan pasukan rezim di Provinsi Idlib, di mana, menurut sumber-sumber lokal, operasi itu termasuk tiga pejuang dari Legiun Levant dengan seorang pejuang dan “wakil” yang berafiliasi dengan rezim, dan jasad dua anggota milisi Iran.

Juga di utara negara itu, direktur tim Koordinator Tanggap Sipil, Muhammad Hallaj, mengatakan bahwa 271.000 orang pengungsi telah kembali ke daerah mereka di provinsi Idlib dan Aleppo, sejak perjanjian gencatan senjata antara Turki dan Rusia mulai berlaku pada 6 Maret.

Hallaj menambahkan bahwa sebagian besar pengungsi masih tinggal di kamp-kamp di dekat perbatasan Turki, dan menolak untuk kembali ke kota-kota mereka selama rezim mengendalikan mereka, tetapi ketakutan akan penyebaran Corona telah memotivasi orang untuk meninggalkan kamp yang padat dan kembali ke rumah mereka.

Lebih dari satu juta warga sipil mengungsi dari Idlib, mengingat operasi militer yang diluncurkan oleh rezim Suriah dan sekutunya di provinsi tersebut November tahun lalu. (Fath)

Sumber: Badan Anatolia/via aljazeera.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

[Fiksi Ramadan] Cahaya Hilal Terbelah di Tirai Bambu

Sun May 24 , 2020
Share on […]
Tentang Hiramedia: Amerika Serikat Minta PBB Mengawasi Perdamaian di Suriah

Sebagai Web/Blog :

  1. 1.Media Informasi : Menyampaikan gagasan, ide dan informasi seputar isu-isu mutakhir sosial politik, khususnya di dunia Islam yang dirangkum dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional.
  2. Media Publikasi : Menerbitkan riset dan penelitian para profesional dan pakar di bidangnya untuk dimanfaatkan masyarakat luas.
  3. Media Edukasi : Menghadirkan berbagai sumber informasi dan bacaan  yang edukatif dan inovatif kepada pembaca dengan prinsip menjunjung tinggi perbedaan dalam bingkai kebinnekaan dan  toleransi sesuai semangat keislaman serta keindonesiaan yang berdasarkan Pancasila.

HIRAMEDIA KONTAK : hiramedia45@gmail.com