Rivalitas China VS Amerika Serikat

Profesor Kishore Mahbubani/Wikipedia.org/Repro/Fath

Dalam beberapa tahun terakhir, rivalitas dua kekuatan ekonomi dunia ; China dan Amerika Serikat terlihat semakin nyata. Tampak menegangkan saat Donald Trump berada di tampuk kekuasan negeri Paman Sam (2016-2020) lalu. Prediksi Kishore Mahboubani, kontestasi pengaruh geopolitik kedua negara bisa berlangsung dalam satu atau dua dekade ke depan.

Komunikasi politik antara Beijing-Washington saling bersahutan dengan tonasi tinggi. Amerika Serikat tiada henti melancarkan “serangan” terhadap China dengan nada “perang” mulai dari perang mata uang (currency war), perang dagang (trade war) dan perang teknologi (technology war). Lebih dari itu, kerap menghembuskan isu-isu sensitif menyangkut kedaulatan “sovereignty” dalam negeri China yang tidak bisa diterima China. Pada akhirnya, siapakah yang akan menjadi pemenang dalam kontestasi geopolitik tersebut? Apakah kontestasi tersebut akan berakhir pada konfrontasi atau jusru kolaborasi?

“Amerika Serikat tiada henti melancarkan “serangan” terhadap China dengan nada “perang” mulai dari perang mata uang (currency war), perang dagang (trade war) dan perang teknologi (technology war).”

Melalui buku “Has China Won ?: The Chinese Challenge to American Primacy”, (Apakah China Menang ? : Tantangan China Atas Supremasi Amerika Serikat) Profesor Kishore Mahbubani, seorang diplomat senior Singapura dan seorang akademisi yang banyak bergelut dengan isu-isu kebijakan luar negeri dan geopolitik, melakukan analisis mengenai kontestasi pengaruh geopolitik dua kekuatan ekonomi : China versus Amerika Serikat yang semakin “seru” sejak era Presiden Donald Trump. Eskalasi ketegangan hubungan kedua negara pada periode tersebut, berada dalam titik terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Profesor Mahbubani menyingkap 10 area (the big tens) pertanyaan yang bisa menjadi bahan percermatan para analis kebijakan luar negeri, khususnya dalam melihat rivalitas dua negara ; China dan Amerika Serikat saat ini. 

Apakah Amerika akan meningkatkan mata pencaharian bagi 330 juta warganya atau mempertahankan keunggulannya dalam sistem internasional?

Dalam Perang Dingin, pengeluaran besar untuk pertahanan Amerika terbukti bijaksana karena mereka memaksa Uni Soviet, sebuah negara dengan ekonomi yang lebih kecil, untuk mengimbangi pengeluaran militer Amerika. Pada akhirnya, Uni Soviet bangkrut.

China memetik pelajaran berharga dari runtuhnya Uni Soviet. Menahan pengeluaran pertahanannya sembari fokus pada pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Apakah bijaksana bagi Amerika berinvestasi besar-besaran untuk Anggaran pertahanannya? Atau haruskah ia mengurangi biaya pertahanan dan keterlibatannya dalam (perang asing) yang mahal dan berinvestasi lebih banyak dalam meningkatkan layanan sosial dan meremajakan infrastruktur nasionalnya? Apakah Amerika tahu tentang (kekuatan ekonomi) saingannya-China ? Apakah Amerika Serikat membuat kesalahan persepsi yang mendasar ketika memandang Partai Komunis China?

Kebangkitan ekonomi China yang berpenduduk sekitar 1.4 miliar dengan  segala kemajuannnya mulai dari industri pertanian hingga pertahanan dianggap sebagai ancaman terbesar (the greatest threat) bagi Amerika Serikat. Sudah jamak diketahui, transformasi China dari negara miskin ke raksasa ekonomi dunia, kini mejadi rival Amerika Serikat.

Mengutip pendapat Jenderal Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan Komandan Korps Marinir Pasukan Bantuan Keamanan Internasional AS, bahwa “China mungkin menjadi ancaman terbesar bagi bangsa kita (AS) sekitar tahun 2025”.

Pada bagian berikutnya, (chapter 2 dan 3), Mahboubani melakukan kajian menarik tentang kesalahan-kesalahan strategis yang dibuat kedua negara ; baik China maupun Amerika Serikat. Di antara kesalahan tersebut, China telah memberi ruang kepada perusahaan-perusahaan raksasa Amerika Serikat seperti ; Boeing, General Motors dan Ford memanfaatkan pasar besar (big market) China. Pendapatan Boeing dari pasar China mencapai $ 1.2 miliar pada tahun 1993, dan meningkat menjadi $ 11.9 miliar pada tahun 2017. Bahkan, Boeing memperkirakan pada tahun 2038, China membutuhkan setidaknya 7.690 pesawat komersial baru senilai $ 1.2 triliun. (chapter 2). Tentu, ini akan memberi peluang dan kesempatan bagi terciptanya lapangan pekerjaan di Amerika Serikat.

Sebaliknya, pendekatan Presiden Trump terhadap China justru memberi kesempatan China semakin besar. Dalam catatan Mahbubani, jika Trump terpilih kembali menjadi Presiden AS (2020-2024), justru akan memperkecil posisi Amerika Serikat secara global dan memberi kesempatan kepada China untuk berperan lebih kuat di panggung internasional.  China menyambut baik multilaterálisme, sementara Amerika Serikat di masa Donald Trump lebih mengedepankan proteksionisme.  Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat mungkin lebih rentan daripada yang diperkirakan dalam kontestasi geopolitiknya dengan China. 

Memahami Kekuatan China

Dalam perspektif Mahbubani, Amerika Serikat akan sulit menembus kekuatan tembok ideologis yang dianut China – komunisme-sosialisme. Karena komunisme-sosalisme China lahir dari peradaban masyarakat China itu sendiri. Kemudian, tumbuh dan berkembang dengan karakteristiknya sendiri bukan berakar dari ideologi luar seperti Leninisme dan Marxisme.

Maka, dalam kontestasi geopolitik ini, ia menganjurkan secara jujur agar Amerika Serikat mengenali China. Karena, “citra China di dalam negeri China sendiri berbeda dengan di luar China.

Sosialisme China tidak menutup investasi asing. Bahkan, dengan model ekonomi yang terbuka, China membuka diri untuk  investasi asing di beberapa sektor, termasuk dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan negara-negara aliansinya.

Mahbubani mengutip kata-kata Sun Tzu, salah seorang ahli strategi ternama China ; “Jika Anda mengenal musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut dengan hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri tetapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak mengenal musuh atau tidak mengenal diri Anda sendiri, maka Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran.”

Tanpa menarik batas tendensi politis antara Beijing dan Washington, Mahbubani melakukan pendekatan komparatif dalam menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing. Setidaknya, perspektif Mahbubani tentang rivalitas China-Amerika Serikat dalam buku ini akan menjauhkan konfrontasi yang beresiko tinggi. Mungkin, Amerika Serikat memang perlu mengubah permainan dalam “rivalitas”nya dengan China dan mengenal lebih baik lagi tentang China.

*) Alumni Pascasarjana Kajian Pemikiran Politik Islam Universite Ezzitouna, Tunisia/Peminat Kajian Politik dan Hubungan Internasional

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: