Ketua Liga Muslim Norwegia Bicara Islam di Eropa dan Terorisme

Masyarakat Muslim di Norwegia Usai Shalat Jumát di Masjid Rabita Oslo/Fath

Oslo : Suatu kehormatan bagi perwakilan Pelitaonline.com (POL) di Oslo dapat bertemu salah seorang tokoh muslim asal Tunisia yang berdomisili di Norwegia, Prof. Ibrahim Belkilani yang saat ini menjadi Ketua Organisasi Islam di Norwegia yaitu Liga Islam Norwegia (Det Islamske Forbundet) atau disingkat DIF.

Pada Minggu Siang (12/8/2012), di tempat kerjanya, di lantai 3 Masjid Rabita Oslo, sosok bersahaja jebolan Universite Ezzitouna Tunisia jurusan Aqidah Filsafat ini dengan ramah menyambut Fathurrahman Yahya dari Pelitaonline.com yang secara kebetulan juga alumni Perguruan Tinggi yang sama di Tunisia.

Pria yang sibuk mengajar di sejumlah Lembaga Pendidikan di Norwegia ini merasa terkesan dengan Indonesia, tidak saja karena mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi karena pengalaman dan posisinya dalam kancah internasional sangat diperhitungkan. “Indonesia akan menjadi menara yang akan menerangi pelosok bumi dan menjadi panutan umat Islam”, katanya singkat. 

Perbincangan dengan Belkilani yang belangsung sekitar 45 menit itu mengupas mengenai Islam di Eropa, utamanya di Norwegia, bangkitnya kelompok radikal sayap kanan, terorisme, perbedaan penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawwal hingga situasi muslim di Myanmar. Berikut petikannya.

(POL)-Prof. Kilani, pertama, bisa Anda jelaskan tentang peran Liga Islam Norwegia?

(Belkilani)- Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw.  Liga Islam Norwegia (Det Islamske Forbundet/DIF) berdiri  pada tahun 1987. Lembaga ini   berupaya  membantu komunitas muslim mulai dari kalangan anak-anak, dewasa maupun orang tua dalam menjalankan ritual keagamaan dan menjaga identitas mereka.  

Selain itu,  Liga Islam Norwegia berupaya memperbaiki citra Islam di  negeri ini,  melaksanakan  kewajiban terhadap komunitas muslim  dengan  membela hak-hak mereka serta berupaya agar umat Islam dapat berperan aktif serta terlibat dalam urusan sosial.   

Jadi, wilayah kerja dan peran (DIF) adalah menyangkut urusan umat Islam, dan masyarakat secara umum dalam rangka membela hak-hak  mereka. Bekerjasama dengan lembaga-lembaga  masyarakat madani yang ada di Norwegia  dalam rangka menanamkan niai-nilai keagamaan dan kemanusian, menghormati nilai etika dan berupaya membendung penyimpangan-penyimpangan sosial atau prilaku kekerasan. Bekerjasama dalam rangka menjaga stabilitas sosial di negeri ini agar komunitas muslim dapat berperan aktif dan memiliki pengaruh di Norwegia.

(POL)- Di tengah perbedaan komunitas muslim, baik itu  berupa perbedaan etnis, kebangsaan dan aliran/madzhab misalnya di sini ada komunitas Somalia, Turki, Irak dan Iran, dimana Liga Islam Norwegia memposisikan diri?

Allah SWT. memang menciptakan kita berbeda-beda seperti ini, baik dalam perbedaan  bahasa dan latar belakang etnis. Ini  merukan kekayaan yang menjadi ciri khas Islam sebagai agama universal melampaui batas-batas geografis dan bahasa  di bawah bendera “Laailaaha Illallahu Muhammadun Rasulullahi”, bersatu dalam satu haribaannya. Pada prinsipnya, perbedaan dan keragaman itu adalah positif, walaupun sangat disayangkan, ada sebagian kelompok atau etnis tertentu yang ingin menutup diri hanya untuk kelompoknya sendiri dan ini merupakan hak mereka. Namun, Liga Islam Norwegia (DIF)  tidak hanya khusus bagi kelompk  masyarakat muslim tertentu atau etnis atau penutur bahasa tertentu. Lembaga ini berlandaskan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

(Belkilani)-Para pekerja di (DIF) berasal dari berbagai negara, dari Barat hingga Timur, sehinggag di sini ada muslim  Somalia, Pakistan, Turki, Maroko, Bosnia, dll. Memang ada beberapa lembaga yang dibentuk khusus untuk kelompok tertentu karena adanya hal tertentu yaitu perbedaan bahasa, sehingga karena kesulitan bahasa, mereka membentuk lembaga sendiri. Sebaliknya, DIF terbuka untuk semua  komunitas muslim dari berbagai penjuru negara muslim. Di (DIF), mereka benar-benar menyatu .

(POL)-. Adakah kesulitan atau hambatan yang dialami Liga Islam Norwegia dalam menjalankan kegiatan dan program keagamaan? 

(Belkilani)- Sungguh, Norwegia adalah negara yang adil. Negeri ini memiliki keistimewaan dimana masyarakatnya terbuka dan  ada persamaan penuh bagi semua warga. Apa yang menjadi hak bagi Masjid juga sama dengan apa yang menjadi hak bagi Greja. Tidak ada diskriminasi dan perbedaan antara satu lembaga keagamaam dengan yang lain, baik dari segi hak dan kewajiban serta dalam hal bantuan.

Aturan hukumnya ada, dan tidak ada perbedaan di dalam masyarakat Norwegia, sehingga tidak ada kendala bagi masing-masing lembaga keagamaan dalam menjalankan kegiatan dan programnya. Sebaliknya, di beberapa negara Eropa yang terbelit konflik, ada beberapa slogan diskriminatif yang bernuansa rasial, tetapi hal itu sedikit dan hanya fenomena bersifat kasuistik.. Di norwegia,  masyarakatnya heterogen dan kami hidup di bawah negara hukm yang adil, masing-masing saling bekerjasama secara integral.

(POL)- Bagaimana pihak negara/pemerintah Norwegia memperlakukan Lembaga Anda, apakah (DIF) mendapat bantuan material dari Pemerintah?

(Belkilani)- Seperti yang saya katakan, Norwegia adalah istimewa bahwa hak-hak di si ni sama. Hak-hak yang yang berlaku bagi Greja juga belaku bagi semua lembaga keagamaan yang lain. Setiap anggota dan  lembaga keagamaan mendapat bantuan walaupun secara simbolis untuk membantu lembaga tersebut sekaligus memenuhi kebutuhan anggotanya. Hal seperti ini berlaku bagi Gereja sebagaimana juga berlaku bagi lembaga-lembaga Islam. Setiap anggota di Liga Islam  terdaftar secara resmi, mendapat bantuan pemerintah atau pihak-pihak lain untuk kepentingan kegiatan (DIF). Jadi, bantuan pemerintah Norwegia sesuai dengan jumlah anggota dan seberapa besar kegiatan yang dilakukan lembaga tersebut.  

(POL)- Setelah Tragedi bom Oslo dan pembantaian di Utoya 22 Juli 2011, adakah dampak negatif terhadap Liga Islam Norwegia atau terhadap komunitas muslim di sini?

(Belkilani)- Tidak, setelah  terjadinya tragedi bom Oslo dan pembantaian di Utoya yang dilakukan Anders Behring Breivik, saya melihat justru ada dampak positifnya. Satu sisi, bahwa gambaran terorisme yang kerap diarahkan kepada kelompok muslim sedikit berkurang, karena pelakunya dalam tragedi ini adalah warga asli norwegia, bukan kelompok muslim atau dari kelompok berwarna kulit tertentu. Ini menunjukkan bahwa terorisme tidak punya agama, bahasa atau warna kulit. Terorisme adalah terorisme. Pada sisi yang lain, poin penting dalam hal ini membuktikan bahwa terorisme bukan milik agama tertentu atau komunitas tertentu. Ini jelas bahwa yang paling berbahaya sebenarnya  adalah kelompok radikal sayap kanan di negara-negara (Eropa), bukan imigran muslim.

Dalam tregedi Utoya, di antara 69 korban terdapat 17 pemuda  muslim yang menjadi korban teror Breivik. Dalam hal ini warga muslim juga punya peran dalam melakukan perlawanan terhadap  pelaku teror  di Utoya. Bahkan, setelah ledakan bom yang terjadi di depan Kantor Pemerintah Oslo, komunitas muslim punya peran penting dalam upaya melakukan  pertolongan pertama. Walaupun tragedi  ini menyakitkan, saya lihat tidak ada dampak negatif yang ditimbulkan oleh serangan teror tersebut terhadap komunitas muslim.

(POL)- Kalau kita cermati, belakangan ini gerakan radikal kelompok kanan di sejumlah negara Eropa semakin menguat menentang imigran muslim. Bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena seperti ini?

(Belkilani) Memang ada slogan (anti imigran muslim) dan itu tidak diragukan. Barangkali selogan tersebut semakin menguat dalam kondisi krisis ekonomi di Eropa. Mereka berusaha dengan selogan tesebut ingin memutarbalikkan fakta bahwa penyebab krisis ekonomi adalah karena adanya para imigran, bukan penduduk asli. Menurut data-data terakhir, kami di Norwegia juga merasakan dan mengalami dampak krisis  ekonomi tersebut. Slogan seperti itu juga ada, tetapi sangat lemah karena hanya ingin menjaga puritanitas  etnis, dan budaya norwegia yang dimanfaatkan sebagai alat propaganda terhadap komunitas muslim.  Hanya saja, secara umum propaganda  itu lemah dan itu bisa juga menjadi kendala.

Menjelang Pemilu yang akan berlangsung dalam waktu dekat, propaganda tersebut menjadi kartu truft politik bahwa keberadaan para imigran (muslim) dianggap mengancam eksistensi penduduk dan budaya Norwegia, dan itu tidak benar. Padahal sebaliknya, komunitas muslim punya peran positif dan menjadi front walaupun tanpa dipungkuiri terdapat beberapa fenomena kurang menyenangkan, tetapi tidak merisaukan.

 (POL)- Liga Islam yang Anda pimpin memiliki lembaga atau komisi khusus dalam menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawal,  seperti apa mekanismenya?

(Belkilani) Kami berpegang pada Lembaga Fatwa dan Kajian Eropa (European Council for Fatwa and Research/ECFR). Di sini juga ada Majelis Islam, Komisi Imam dan Komisi Hilal, berusaha  sebisa mungkin agar umat Islam berpuasa dan merayakan Idul Fitri pada waktu yang sama. Memang ada kendala, tetapi pelan-pelan usaha  ini berhasil.

(POL)- Apakah Komisi Hilal ini menggunakan mata telanjang untuk melihat wujud Hilal?

(Belkilani)- Tidak, sulit  untuk melihat hilal dengan mata telanjang. Kami melakukan itu melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan katentuan-ketentuan syariat. Ini yang biasa dilakukan seperti yang ditentukan Lembaga Fatwa dan Kajian Eropa (European Council for Fatwa and Research/ECFR) yang bermarkas di Inggris), yaitu memadukan antara ilmu pengetahuan yang valid dengan ketetapan-ketetapan syariat yang berlaku.

(POL)- Walaupun di sini ada Mejelis Islam Norwegia (Islamic Council of Norway) yang menghimpun semua masjid di Norwegia, apakah ada perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawwal?

(Belkilani)- Di sini menjadi problem, karena adanya kecendrungan nasionalisme  atau  kebangsaan misalnya ; Muslim Turki berpuasa mengikuti waktu yang ditentukan negaranya, muslim Pakistan juga   tidak berpuasa kecuali megikuti ketentuan negara mereka, demikian muslim Saudi juga mengikuti ketentuan Saudi Arabia. Komunitas muslim Pakistan adalah kelompok tebesar di Norwegia, namun di antara mereka sendiri terdapat perbedaan.

Inilah persoalannya.Tetapi, kami, Masjid Rabita (Liga Islam Norwegia) dan Majelis Islam Norwegia yang berkantor di sini sejak tahun lalu, berusaha sebisa mungkin untuk menyatukan antar masjid-masjid yang ada di Norwegia agar umat Islam bisa berpuasa pada hari yang sama. Dan, alhamdulilah ada perkembangan.Tahun ini, sebagian besar komunitas muslim di Norwegia berpuasa pada hari yang sama, dan insya Allah akan merayakan Idul Fitri pada hari yang sama yaitu hari Minggu, 19 Agustus. Ini yang paling absah dari aspek ilmiah.

(POL)- Saya melihat bahwa salah satu program Liga Islam Norwegia memberikan bantuan kepada saudara-sudara muslim misalnya di Somalia, apakah (DIF) juga memberi bantuan bagi masyarakat muslim selain di negara-negara Arab misalnya muslim Mynamar yang saat ini sedang mengalami kesulitan.

(Belkilani)- Di antara tujuan kami (DIF) adalah membantu persoalan masyarakat dimanapun berada, apalagi umat Islam. Kami bertujuan membela hak-hak setiap muslim dan melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga bantuan internasional, baik dalam hal informasi atau memberi bantuan kepada yang berhak tanpa perbedaaan, namun melalui mekanisme yang berlaku di Norwegia. Kami memberi bantuan kepada siapapun yang memerlukan tanpa perbedaan, tetapi dalam koridor hukum atau aturan yang berlaku di Norwegia. Ini kewajiban setiap muslim.

(POL)- Menurut Anda apa yang perlu dilakukan negara-negara Islam untuk menyelesaikan persoalan muslim Rohingya di Myanmar?

(Belkilani) Saya berharap negara-negara Islam mengambil peran penting. Negara–negara Islam seperti pemimpin Turki mulai bergerak untuk melakukan tekanan, dan ini positif. Saya berharap masyarakat internasional juga bergerak sesuai kemampuan untuk melakukan tekanan kepada pihak-pihak yang menjadi penyebab kejahatan. Mereka (masyarakat muslim) di Myanmar layak mendapatkan hak hidup seperti halnya masyarakat yang lain.

Masyarakat sekarang saling berdekatan, masing-masing punya hak hidup yang sama, tidak ada perbedaan dalam hal ini, baik bagi masyarakat Yahudi, Nasrani atau orang yang tidak beragama sekalipun. Hemat saya, tekanan utama adalah  dari umat Islam, apabila umat Islam proaktif, maka masyarakat internasional juga akan memberikam bantuan. Jika umat Islam sendiri meninggalkan hak-hak saudaranya sendiri, jangan berharap ada orang lain yang akan membela hak-hak mereka. (fath) 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: