Oleh : Fathurrahman Yahya, pemerhati politik dan isu-isu internasional, peneliti komunikasi politik dan diplomasi Universitas Sahid Jakarta
Kompas.com, 21 April 2026, 09:47 WIB
Lihat Foto Jembatan B1, sehari setelah serangan Amerika Serikat yang menghancurkan jembatan terbesar di Iran sekaligus tertinggi di Timur Tengah itu, yang terletak di Kota Karaj, difoto pada 3 April 2026.
WALAUPUN pertempuran belum berakhir, perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menegaskan satu realitas klasik dalam hubungan internasional: perang modern tidak lagi menghasilkan pemenang tunggal.
Di balik narasi kemenangan militer yang sering diklaim oleh para aktor utama, tersembunyi dinamika kerugian strategis yang jauh lebih kompleks dan berdampak jangka panjang. Baik Amerika Serikat, Israel maupun Iran sama-sama mengklaim kemenangan dengan versi dan perspektif masing-masing.
Menjadi fenomena menarik bahwa narasi global seperti berpihak kepada Iran.Iran berhasil mengkonstruksi makna kemenangan dengan strategi perang asimitris hingga dampaknya bukan hanya lokal, regional tetapi global.
Dalam perang ini, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menang, melainkan siapa yang mampu bertahan dan mengubah konflik menjadi keuntungan geopolitik dan geostrategis.
Ilusi Kekuatan Militer
Dalam logika konvensional, keunggulan militer—baik dalam teknologi, intelijen, maupun kemampuan serangan presisi—sering dijadikan indikator kemenangan. Amerika Serikat dan Israel jelas memiliki kapasitas dan keunggulan dalam hal ini.
Di atas kertas, Amerika Serikat tidak pernah benar-benar kalah dalam perang. Teknologi militernya unggul, jaringan aliansinya luas, dan kapasitas proyeksi kekuatannya nyaris tanpa tanding. Dalam perang melawan Iran, operasi militer yang terukur, serangan terhadap target strategis, serta kemampuan dominasi udara menjadi bukti superioritas Amerika Serikat dan Israel. Namun, kemenangan militer tidak otomatis bertransformasi menjadi kemenangan politik dan strategis.
Sejarah modern menunjukkan satu ironi yang terus berulang: Amerika sering menang dalam pertempuran, tetapi gagal memenangkan perang itu sendiri. Perang melawan Vietnam, Afganistan dan Iran saat ini menunjukkan bahwa dominasi di medan perang kerap gagal menghasilkan stabilitas pasca konflik.
Digambarkan Andre Mack dalam Why Big Nations Lose Small Wars: The Politics of Asymmetric Conflict, 2011, perang Vietnam telah menunjukkan, superioritas militer konvensional yang luar biasa dari kekuatan besar bukanlah jaminan terhadap kekalahan mereka dalam perang melawan negara-negara kecil.
Dalam konteks ini, Amerika Serikat menghadapi dilema klasik: berhasil menekan lawan secara militer, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi keuntungan politik yang berkelanjutan. Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, justru kembali terjebak dalam paradoks kekuatan—kuat secara militer, tetapi dipertanyakan legitimasinya di mata global.
Serangan presisi, dominasi udara, penghancuran infrastruktur dan basis-basis strategis militer Iran, dengan cepat diklaim sebagai keberhasilan taktis dan kemenangan. Namun ada pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apakah Iran akan berubah haluan? Apakah rezimnya runtuh? Ataukah justru konflik ini memperkuat narasi resistensi yang selama ini menjadi fondasi politik domestik Teheran?
Konflik dengan Iran berpotensi mengulang pola lama tersebut—bahkan dalam skala yang lebih kompleks dan berbahaya. Di titik inilah klaim kemenangan militer AS akan kehilangan maknanya. Tanpa hasil politik yang jelas, perang berubah menjadi sekadar demonstrasi kekuatan—superioritas teknologi militer-bukan instrumen perubahan yang diinginkan.
Struktur politik-pemerintahan dan militer Iran terlihat masih mampu bertahan dari tekanan AS dan Israel dengan segala strateginya.
Strategi Perang Asimitris
Iran sangat memahami kondisi dirinya, dan lebih dari itu mengenali lawan serta medan tempur dengan cermat. Secara konvensional, Iran sadar kalah dari AS dan Israel (teknologi, kekuatan armada laut, udara). Karena itu, Iran mengadopsi Strategi utama: Asymmetric warfare (perang tidak seimbang)-Hybrid warfare (militer + ekonomi + proksi) yang berdampak terhadap tekanan ekonomi global.
Serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tidak menciutkan semangat perlawasanan Iran. Di sini, Iran seperti mengubah aturan pemainan dalam bidak catur bahwa ‘’kehilangan’’ raja tidak berarti ‘’kekalahan’’.
Dengan pion-pion dan segala perangkat-perangkat pertahanannya yang masih ada, Iran mampu bertahan dan bisa memunculkan ‘’raja baru’’ sehingga permainan masih berlangsung. Iran menggunakan senjata perlawanan militer (militery shock weapon), sekaligus menggunakan senjata kejut ekonomi (ecomomic shock weapon).
Satu sisi, perlawanan militer Iran menggunakan senjata rudal balistik dan drone serta poros perlawanan proksi di kawasan Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman dan milisi Syiah di Irak. Pada sisi lain, Iran menggunakan ‘’senjata non militer’’ dengan mengontrol perairan selat Hormuz sebagai titik tekan (choking point) strategis bagi nadi perekonomian dan lalu lintas (+ 20 %) perdagangan minyak dunia.
Dampaknya sangat jelas, secara langsung memengaruhi stabilitas energi global. Fluktuasi harga minyak, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian pasar menjadi konsekuensi nyata dari strategi perang asimitris ini.
Pendekatan strategi Iran berbeda dengan pendekatan militeristik AS–Israel. Iran memainkan strategi yang lebih subtil-halus dan cerdas yaitu ketahanan (resilience). Dalam perspektif ini, bertahan dari tekanan justru menjadi bentuk kemenangan. Iran tidak perlu memenangkan perang secara konvensional. Cukup dengan mempertahankan eksistensi rezim, menjaga pengaruh regional, dan tetap relevan dalam percaturan geopolitik.
Dari pendekatan ini dapat dicermati bahwa ada pergeseran paradigma perang modern: dari decisive victory menuju strategic endurance-kemenangan menentukan menuju ketahanan strategis. Iran memahami bahwa dalam konflik asimetris, waktu adalah senjata, dan ketahanan adalah kekuatan. Bagi Iran, dengan menggunakan strategi asimitris-economic choking weapon-, dimensi geoekonomi, perang ini sudah mengguncang dunia dengan biaya rendah (low cost).
Menghadapi Armada Laut raksana AS di Selat Hormuz, jalur penting bagi minyak global, Iran tidak perlu Armada Laut raksasa, cukup dengan ‘’armada nyamuk’’—Armada tidak konvensional, yaitu ribuan kapal serang berukuran kecil dan cepat.
Mengutip Congressional Research Service, armada tersebut mencakup ribuan perahu kecil berkecepatan tinggi yang mampu melaju dengan kecepatan 40 hingga 60 knot, dipersenjatai dengan senapan mesin, roket, dan rudal serta peralatan penebar ranjau.
Mantan pejabat Pentagon, Alex Plitsas, menyebutnya “armada nyamuk” karena ukurannya kecil dan mengganggu — dan mereka menyerang. Tapi mereka cukup kuat untuk menggigit dan menjengkelkan. Di titik ini, Iran sudah mencapai tujuan strategisnya, dan di sinilah kemenangan Iran yang sesungguhnya, mempertahankan dan meningkatkan posisi tawar-pengaruh geopolitiknya-baik regional maupun global.
Kalkulasi Untung-Rugi
Dalam perang ini-atau mungkin masih akan berlangsung-tidak ada pemenang absolut. Perang ini menunjukkan bahwa setiap aktor mengalami kombinasi keuntungan dan kerugian. Amerika Serikat masih mempertahankan peran globalnya, tetapi dengan biaya ekonomi dan politik yang tinggi, belum lagi biaya taktis operasional militer yang sangat mahal.
Israel menunjukkan superioritas militernya, namun tetap menghadapi ancaman keamanan jangka panjang, karena kekuatan Iran masih menjadi ancaman. Sementara itu, Iran mengalami tekanan ekonomi sangat berat, tetapi berhasil mempertahankan posisi sebagai aktor kunci dalam dinamika geopolitik regional. Artinya, kemenangan dalam perang AS-Israel-Iran menjadi relatif, sementara kerugian bersifat nyata dan terukur.
Dokumen-dokumen diplomatik sebagaimana dilaporkan POLITICO, memperlihatkan perang Iran merugikan AS di berbagai front di seluruh dunia.
Menurut laporan POLITICO, dampak buruk bagi AS terlihat di Bahrain, Indonesia, dan Azerbaijan, di mana Amerika Serikat disinyalir berjuang untuk mengejar ketertinggalannnya dengan pesan-pesan-naratif- yang pro-Iran. Yang jelas, polarisasi di dalam aliansi NATO meningkatnya politik blok akan mereduksi pengaruh geopolitik dan geostrategis AS secara global, khususnya di era pemerintahan Trump. Di sinilah dilema dan kerugian Amerika Serikat yang sesungguhnya.
Di tengah dinamika ini, satu hal menjadi jelas: dalam perang modern, keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling mampu mengelola konsekuensi dari konflik itu sendiri.
Editor : Ferril Dennys
