Sunyi dalam Diam, Teori Zig Zag yang Terlupakan dari Lengsernya Habibie

Presiden BJ.Habibie/Wikipedia.org

Oleh : Faqih Ma arif   *)

” ..Habibie’s advocacy of a strange “zig-zag theory” of economics. He believed that cutting interest rates, then doubling them, then slashing them again, would reduce inflation. ” ( TIme Magazine , June , 1998 )

Dollar pun menggila dan ganas pasca reformasi pada tahun 1997, nilai tukar rupiah anjlok dari Rp16.00 per USD menjadi Rp6.500 per USD. Sedangkan pada tahun berikutnya 1998 rupiah berhasil kembali ditekan dari Rp14.800 per USD menjadi Rp7.000 per USD.

Presiden baru kala itu berpikir keras untuk dapat mengendalikan dan menstabilkan perekonomian Indonesia karena krisis moneter. Turunnya mata uang Bath terhadap nilai tukar dollar Amerika, ternyata memiliki efek domino pada mata uang rupiah.

Ya betul, BJ Habibie yang baru saja menjadi presiden beberapa bulan itu adalah seorang teknokrat ulung. Kepandaiannya dalam ilmu teknologi sudah dibuktikan dengan banyak karya dan cipta, akan tetapi kali ini dia harus bisa memecahkan persoalan ekonomi, yang memang bukan bidangnya.

Salah satu Menteri senior  Singapura Lee Kuan Yew, bahkan sempat mengecilkan jerih payah Habibie dengan mengatakan bahwa dollar akan terus naik hingga Rp20.000 kalau Habibie yang menjadi presiden.

Akan tetapi fakta berkata lain, Habibie dapat menciptakan iklim sentiment positif dengan mengunci posisi rupiah pada nilai tukar sebesar Rp6.500. Fantastis! 

Suatu metode yang telah terbukti kehandalannya hingga saat ini. Mr. Lee Kuan Yew pun menelepon Habibie dan mengakui kehebatan pengendalian mata uang oleh Professor teknologi ini.

Mengenal Teori Zig zag
Teori ini sebenarnya telah dikenalkan pada awal November 1996. Teori ini disampaikan pada sebuah seminar yang di gelar oleh CIDES (Center for Information and Development Studies). Teori ini kemudian di sebut Habibie dengan nama “Teori Suku Bunga Zig Zag”.

Dalam membuat teori ini Habibie tidak sendiri, beliau dibantu oleh Jusman Syafii Djamal. Di kisahkan bahwa Jusman berusaha keras untuk membuat simulasi model matematika selama tiga bulan tanpa henti. 

Simulasi model yang dimaksud adalah tentang kaitan suku bunga bank, inflasi, perubahan nilai tukar dalam tingkah laku kurva supply and demand dari dua jenis mekanisme pasar yang berbeda, teori ini pada akhirnya dikenal dengan nama teori “Zig Zag“.

Teori Zig-zag digunakan untuk menurunkan suku bunga yang cenderung terus naik. Pada prakteknya, suku bunga sebesar 14 persen dapat di sulap menjadi  8 persen, tujuan dari teori ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya ekonomi nasional.

Pada saat perekonomian di suatu tempat mengalami overheating, otoritas moneter perlu menaikkan suku bunga menjadi 12 persen. Kemudian setelah suhu ekonomi mendingin, suku bunga diturunkan menjadi 5 persen.

Begitulah seterusnya sampai dengan mencapai kondisi stabil pada level 4 persen per-tahun. Sebenarnya inti dari pemikian beliau saat itu adalah kekhawatirannya pada suku bunga di Indonesia yang cukup tinggi.

Teori ini merupakan kombinasi gabungan sebagai sebab akibat variable ekonomi yang mempengaruhi kondisi ekonomi. Sebagai contoh lain, dalam suatu periode menaikkan dan menurunkan suku bunga dengan selisih cukup ekstrim sehingga mempegaruhi faktor lain seperti inflasi, kurs, dengan tujuan untuk menciptkan keseimbangan baru sesuai dengan tujuan pengambil kebijakan.

Akan tetapi, Bank Indonesia pada saat itu terlihat belum setuju untuk menerapkan teori ini. Winarno Zain, pengamat ekonomi nasional pada waktu itu mengatakan bahwa menyetel Suku bunga bukan merupakan masalah menurunkan biaya modal kerja perusahaan, melainkan juga menyangkut ketahanan neraca pembayaran. “Urusannya tidak sesederhana itu, mengemudikan suku bunga tidak semudah seorang pilot menerbangkan pesawat secara Zig Zag“. Ungkapnya

Professor yang memiliki hobi berenang dan menyanyikan lagu keroncong Sepasang Mata Bola itu kini telah tiada. Sistem suku bunga tinggi yang dikritik beliau saat itu merupakan salah satu penyebab ambruknya ekonomi Indonesia, yang sempat digelari sebagai calon macan Asia di masanya.

Teori Zig Zag yang menggunakan pendekatan stabilisasi aerodinamika itu sunyi dalam diam, bersama dengan lengsernya beliau sebagai presiden. Entah sampai kapan.

Selamat Jalan Professor, Semoga Khusnul Khotimah. Do’a kami senantiasa bersamamu. Semoga bermanfaat

Dimuat : Kompasiana, 15 September 2019
Copyright FQM @2019
Referensi: 1 2 3 4 5

*) Faqih Maarif, Beijing University of Aeronautics and Astronautics, Beijing. 103号房间, 1号楼, 外国留学生宿舍, 北京航空航天大学 北京市海淀区学院路, 37谢元路, 邮编:100083. Office: Lecturer at Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering Yogyakarta State University, Kampus Karangmalang, Depok – Sleman Yogyakarta Special Region 55281

1 thought on “Sunyi dalam Diam, Teori Zig Zag yang Terlupakan dari Lengsernya Habibie

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: