Manuver PKB Untuk Pilgub DKI Jakarta 2024

Logo Partai Kebangkitan Bangsa/Wikipedia

Penulis : Fathurrahman Yahya *)

Saat politisi PKB, Luqman Hakim mengumumkan nama Raffi Ahmad dan Agnez Monica (12/2/2021) figur potensial dari luar kader partai (PKB) sebagai kandidat calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2024, banyak orang terkesima, kaget dan heran. Selang beberapa hari kemudian, politisi PKB yang lain, Faisol Riza, memunculkan opini secara yakin bahwa Tri Rismaharini – kader PDI-P (saat ini Mensos) merupakan calon kuat yang bisa mengancam posisi Gubernur petahana, Anies Baswedan. “Hampir pasti Gubernur DKI mendatang adalah Risma. Sekarang yang diperebutkan adalah wagub,” katanya. (Jawapos.com/19/2/2021).

Mengapa Partai berbasis massa Islam – kalangan Nahdliyin –  ini memunculkan figur – figur dari luar (PKB) untuk Pilgub DKI 2024? Mengapa PKB kerap memanfaatkan popularitas – selebritis – papan atas dalam setiap momentum pemilu?

Pemunculan opini lebih awal tentang figur-figur yang dinilai memiliki potensi elektabilitas versi PKB dari luar partainya seperti ; Raffi Ahmad, Agnez Monica dan Tri Rismaharini menjelang Pilgub DKI Jakarta, dapat dibaca sebagai bagian dari manuver dan branding politik PKB sekaligus bargaining dalam formula koalisi.

Manuver Politik

Mencermati pola komunikasi politik ala PKB, pencalonan figur-figur potensial dari kalangan artis dan tokoh politik misalnya ; Raffi Ahmad, Agnez Monica dan Tri Rismaharini untuk Pilgub DKI Jakarta 2024 seperti yang ramai dalam pemberitaan akhir-akhir ini, bukan sesuatu yang aneh dan baru. Pola komunikasi-kelakar politik sensasional-sudah menjadi bagian dari PKB itu sendiri.

Sejak pemilu 2014, kelihaian sang Ketum (Cak Imin) memanfaatkan momentum dan market effect dari seorang public figure, berhasil menaikkan pamor politik PKB.  Pencalon mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dan si Raja dangdut H.Rhoma Irama sebagai kandidat calon Presiden/Wakil Presiden pada pemilu 2014 yang dianggap sensasional saat itu, menjadi eksprimen politik PKB yang sangat jitu. Bahkan, pada tahun 2017 menjelang Pilkada Jawa Tengah, Cak Imin berkelakar akan menyandingkan Marwan Jakfar dengan artis Sayhrini melawan Gubernur petahana Ganjar Pranowo.

Manuver politik PKB tidak hanya berhenti di situ. Pada saat partai maenstrem masih malu-malu untuk mengusung Capres dan Cawapres, PKB dengan percaya diri mamasang baliho Cak Imin besar-besaran di berbagai pelosok negeri sebagai cawapres Joko Widodo 2019 dengan tagline JOIN.

Pola komunikasi politik sensasional dan manuver persuasif yang dibangun PKB memang cukup ampuh. Dalam dua pemilu (2014 dan 2019) perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa secara nasional terus naik, dari  ; (4,94 %) pada pemilu 2009 menjadi  (9,04 %) pada pemilu 2014  dan (9,69 %) pada pemilu 2019. Padahal, PKB masih dibayangi pengaruh politik kubu Gusdur – Yenny Wahid yang pernah berkonflik soal hak kepengurusannya.

Branding dan Bargaining

Memahami manuver politik dan pola komunikasi yang dibangun PKB untuk Pilgub DKI Jakarta 2024 dapat dibaca dalam beberapa konteks di antaranya ;

Pertama ; PKB sedang melakukan branding politik di tengah pemberitaan media tentang pendemi COVID-19 yang begitu masif, sehingga dengan pernyataan-pernyataan politik yang “sensasional”, akan menarik perhatian bahwa PKB, khususnya di DKI Jakarta masih eksis dan perlu dilihat, walaupun perolehan suara dan kursi PKB di DKI Jakarta kecil.

Kedua : PKB coba melakukan tes air (water testing) lebih awal terhadap figur-figur potensial untuk kontestasi Pilgub DKI Jakarta, sehingga selanjutnya dapat melakukan kalkulasi politik yang tepat untuk berkoalisi. Testing itu, tampaknya mulai terlihat hasilnya. Sejumlah partai politik seperti ; Nasdem, Demokrat serta PAN bereaksi dan menyodorkan nama-nama kadernya untuk bertarung di Pilgub DKI Jakarta. Walaupun waktu pelaksanaannya  masih relatif lama (2024), setidaknya PKB sudah membaca nama-nama potensial dari partai lain.

Ketiga :PKB berupaya menimang posisi tawarnya dalam kerangka koalisi di Pilgub DKI Jakarta sebagai partai top 5 secara nasional. Sebagai catatan, perolehan suara PKB di DKI Jakarta pada pemilu 2019, berada di urutan ke-9 (308.212 ) suara (5 kursi). Kalah dari partai pendatang baru ; Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berada di urutan ke-4 (404.508) suara, (8 kursi). Posisi PKB, hanya satu tingkat di atas PPP yang berada di urutan ke-10 dengan perolehan 175.935 suara (1 kursi). Dengan realitas itu, sangat wajar jika PKB  melakukan manuver dalam rangka  menguatkan posisi tawarnya (bargaining position), sehingga bisa mudah untuk mendapatkan akses koalisi dengan partai – partai lain.

Keempat :Tampaknya, PKB ingin menunjukkan kepada publik bahwa partai yang memiliki basis pendukung massa kultural dari kalangan muslim – Nahdliyyin- itu merupakan partai inklusif, tidak memiliki sekat identias etnis maupun agama, terbuka bagi kalangan milenial, bahkan non muslim sekalipun. Pemilihan dua nama artis yaitu Raffi Ahmad (muslim) dan Agnez Monica (Kristen) seolah memperlihatkan bahwa PKB ingin mengenyahkan isu politik identitas yang pernah mengemuka pada Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu.

Disadari atau tidak, komunikasi politisi PKB yang dianggap “sensasional” itu, pada satu sisi telah menghentak kesadaran banyak kalangan tentang pentingnya Pilgub DKI Jakarta, sehingga volume pemberitaannya semakin massif dalam media arus utama. Pada sisi lain, akan menimbulkan market effect  bagi PKB itu sendiri sekaligus memberi ruang baca – politik – yang lebih leluasa dan strategis dalam konteks koalisi dengan partai lain di Pilgub DKI Jakarta 2024.

*)  Pemerhati Politik dan Hubungan Internasional/Alumni Pasca Sarjana Kajian Pemikiran Politik Islam Universite Ezzitouna, Tunisia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: