Napak Tilas Menjelang Seabad Hari Ibu Indonesia

22 Desember 2019   07:45 Diperbarui: 22 Desember 2019   09:38  300  13 9

Potret satu keluarga Sumber: http://www.brilio.net

Penulis : Faqih Maarif*)

Seorang bijak berkata, “You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.”

Jika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau mendidik seorang lelaki. Ketika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.

Hari ini usianya sudah hampir seabad (91 tahun), sebuah usia yang melampaui kemerdekaan Republik Indonesia (74 tahun). Akan tetapi, apabila merujuk pada Dekrit Presiden 22 Desember Tahun 1953 No. 316, maka usianya menjadi 66 tahun. 

Manakah yang akan digunakan? 

Marilah kita renungkan bersama akan makna perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari perjuangan bangsa pada masa itu.

Kongres Perempuan pertama
Hari itu tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan kongres perempuan Indonesia pertama yang bertempat di Yogyakarta. 

Salah satu hal yang mendorong kongres tersebut adalah karena kondisi kehidupan perempuan Indonesia yang masih kental dengan budaya patriarkis yang berasas nilai-nilai feodalisme.

Kongres perempuan tersebut digagas oleh ketiga tokoh pada waktu itu diantaranya Nyi Hadjar Dewantara (Wanita Taman Siswa), Ny. Soekonto (Wanita Oetomo), dan Sujatin Kartowijono dari Poetri Indonesia.

Dilansir dari Historia, organisasi perempuan yang hadir pada waktu itu adalah Aisyiyah, Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Moeljo, Organisasi perempuan di Sarekat Islam, Jong Islamieten Bond, sera Wanita Taman Siswa.

Mereferensi pada salah satu inisiator kongres, disampaikan bahwa kongres perempuan didasarkan pada pelaksanaan Sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. 

Spirit sumpah pemuda kala itu menular ke kaum wanita muda untuk mengadakan pertemuan antar wanita se-Indonesia demi persatuan nasional. “Ujar Sujatin”

Semangat kongres ini juga dilatarbelakangi oleh perjuangan sebelumnya yang dilakukan oleh RA Kartini, yang mana menggugat permaduan di kalangan priyayi yang dituliskan dalam suratnya kepada Abendanon.

Meskipun RA Kartini selanjutnya takluk terhadap kehendak Ayahnya yang menjodohkannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang yang sudah beristri tiga. Akan tetapi, gelora agar lepas dari budaya patriarkis menjadi salah satu pemicu diadakannya kongres tersebut.

Apa saja yang dibahas dalam Kongres?
Hasil kongres pertama adalah dibentuknya sejumlah resolusi dan Pembentukan Perikatan Perkumpulan Perempoean Indonesia. 

Beberapa tokoh menyampaikan persoalan penting wanita Indonesia yang mengalami masa suram pada tahun 1920 di masa Hindia Belanda seperti gerakan anti-permaduan, pendidikan untuk perempuan, nasib anak yatim piatu, janda, perkawinan anak dibawah umur (kebanyakan dikawinkan setelah mengalami menstruasi pertama), reformasi undang-undang perkawinan, harga diri perempuan (karena kejahatan kawin paksa).

Konflik dan penetapan
Pada kongres kedua 20-24 Juli 1935 di Batavia hampir pecah karena ada perbedaan mengenai permaduan. Hal ini ditengarai oleh Ratna Sari menyampaikan pidato yang mendukung permaduan.

Akan tetapi, perdebatan mengenai hal tersebut selanjutnya ditiadakan atas usul Maria Ulfah, salah satu tokoh perempuan pada masanya, dan organisasi tersebut tetap solid. 

Sedangkan pada Kongres ketiga merupakan cikal bakal ditentukannya hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Kongres ini dilakukan pada 23-28 Juli 1938 di Bandung.

Kontemplasi jejak sejarah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan penuh perhatian. Berikut ini beberapa hal yang perlu disyukuri oleh peran Ibu di zaman sekarang, dibandingkan dengan zaman dahulu kala.

Wanita zaman dulu wajib tinggal di rumah
Wanita wajib menjaga rumah, sementara hanya suami saja yang berhak keluar rumah dan bekerja. Sementara wanita sekarang dapat pergi ke mana saja, asalkan mendapatkan izin dari suaminya. 

Bahkan untuk wanita karier, hal ini menjadi tidak mudah apabila dipaksakan harus selalu tinggal di rumah.

Wanita masa dulu bekerja di dapur. Sumber: http://atangmanguny.wordpress.com

Wanita masa dulu bekerja di dapur. Sumber: http://atangmanguny.wordpress.com

Dahulu kala, bekerja di dapur adalah suatu kewajiban
Di masa itu, kehebatan wanita ada di dapur, produk resep masakan secara turun temurun diwariskan hingga banyak tercipta masakan lezat. 

Wanita masa kini, lebih diberikan kebebasan untuk memilih, tidak ada paksaan untuk belajar masak seperti pendahulunya. Sehingga banyak darinya yang tidak bisa memasak. 

Saat ini, banyak wanita yang bekerja melampaui beban yang dikerjakan oleh suaminya.

Tugas mengurus anak dan suami, diurus langsung oleh sang istri
Kewajiban seorang wanita ketika sudah berkeluarga wajib menyediakan apa yang diperlukan oleh suami dan anak-anaknya. Bekerja tanpa lelah mengurus kebahagiaan rumah tangganya. 

Kewajiban wanita masa kini lebih berat, selain mengurus anak dan suami, wanita masa kini juga banyak yang bekerja dan tampil cekatan. Sehingga memiliki multi peran dalam rumah tangga yang lebih berat dibandingkan dengan masa lalu.

Potret satu keluarga Sumber: http://www.brilio.net

Potret satu keluarga Sumber: http://www.brilio.net

Wanita zaman dahulu sulit untuk diizinkan sekolah
Pendidikan diajarkan langsung oleh orangtuanya, karena orangtuanya menganggap bahwa seorang wanita harus memiliki bekal untuk kehidupan di masa mendatang, kelak. 

Sementara wanita masa kini harus bersaing untuk mencapai gelar pendidikan setinggi-tingginya di bidang pendidikan minimal meraih gelar sarjana S-1. 

Sebagai contoh Ibu Doktor rer.Nat (rerum naturalium) Evvy Kartini, yang dikenal sebagai sebagai penemu penghantar listrik berbahan gelas di dunia internasional.

Evvy Kartini (Ahli Nuklir Internasional) | Cintami D

Evvy Kartini (Ahli Nuklir Internasional) | Cintami D

Menjaga kerapian, kebersihan rumah, adalah salah satu pokok pekerjaan seorang wanita
Salah satu tugas pokok wanita adalah menjaga kebersihan rumah, yang merupakan dedikasi wanita dalam menjaga rumahnya agar tetap rapi dan layak huni. 

Wanita masa kini harus dapat menyeimbangkan diri antara karier, keluarga dan waktu untuk dirinya sendiri. Selain harus mandiri, dia juga harus bisa dalam segala hal, misalnya membantu mencari nafkah untuk keluarga.

Wajib membantu aktivitas ibu di rumah
Memasak, membersihkan rumah yang kotor, dan segala jenis pekerjaan lainnya merupakan ciri khas wanita zaman dulu, semua harus dilakukan bersama dengan ibunya dalam rangka mempersiapkan bekal sebelum menikah.

Sementara wanita masa kini selain wajib membantu aktivitas ibu di rumah, juga harus memiliki skill khusus di luar kewajiban membantu aktivitas sang ibu di rumah untuk bekal kehidupan di masa mendatang, agar tidak tenggelam di era yang semakin berkembang dan membutuhkan tuntutan tinggi dalam pekerjaan.

Penghargaan untuk Ibu Sri Mulyani | Reuters

Penghargaan untuk Ibu Sri Mulyani | Reuters

Lihatlah sebagai contoh seperti ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang memiliki skill khusus di bidang ekonomi dan merupakan sosok yang sangat berpengaruh di bidang perekonomian dunia. 

Menjadi Menteri Keuangan terbaik se-Asia dan wanita berpengaruh di dunia versi majalah forbes tahun 2008 di urutan ke 23.

Urusan suami menjadi hak penuh suami, tanpa campur tangan istri
Wanita wajib mendukung keputusan suami salah ataupun benar. Tugas wanita dianggap hanya tahu tentang dapur, mengurus anak dan rumah tangga. 

Wanita saat ini banyak yang menjadi “kepala rumah tangga”, terkadang sampai keputusan, urusan pekerjaan dsb juga harus berdiskusi dengan istrinya terlebih dahulu. 

Bahkan terkadang lebih unggul dari suaminya, sehingga harus menghargai suaminya agar harga dirinya tidak jatuh.

Wanita harus mau apabila dijodohkan
Demi menjaga nama baik keluarga besarnya, wanita harus mau dijodohkan. Perjodohan ini bertujuan untuk menjaga hubungan kekerabatan, bahkan sampai dengan hubungan bisnis agar tetap lancar. 

Wanita masa kini, lebih memilih pasangan hidup yang benar-benar sesuai dengan dirinya, dan tanpa ada paksaan dari keluarga. Meskipun saat ini ada sebagian kecil yang masih mengadopsi cara-cara lama.

Tidak tahu salah ataupun benar, wajib menurut pada suami
Keputusan seorang suami berlaku bulat dan tidak dapat di protes. Semua wanita kala itu harus menurut kepada suami meskipun itu menyakiti hatinya. 

Wanita masa kini lebih demokratis, diberi kebebasan berpendapat di dalam keluarga, tidak serta merta wajib mematuhi suami tanpa dasar yang kuat.

Pandai berdandan, merupakan salah satu kewajiban wanita
Keahlian khusus ini harus dimiliki wanita, untuk menjaga nama baik suami mereka dikala ada acara tertentu yang dianggap penting. 

Wanita modern saat ini lebih banyak tampil wah dan pandai berdandan, karena merupakan tuntutan pekerjaan yang harus bernegosiasi dan menemui banyak orang di berbagai acara. 

Lihatlah betapa anggunnya Ibu Susi Pudjiastuti menggunakan pakaian khas daerah.

Ibu Susi Pudjiastuti (Mantan Menteri KP) |ehpedia.com

Ibu Susi Pudjiastuti (Mantan Menteri KP) |ehpedia.com

Beberapa fakta di atas, meskipun tidak semuanya dianggap benar, karena kondisinya seolah-olah “nrimo” (dalam Bahasa Jawa), akan tetapi layak dijadikan renungan agar kita senantiasa bersyukur dengan apa yang sedang kita jalani di saat ini.

Generasi masa depan tangguh Indonesia lahir dari wanita yang memiliki daya upaya yang hebat, untuk membentuk negara maju di masa mendatang.

Sebagai penutup, George Washington, Presiden pertama Amerika Serikat merupakan salah satu pemimpin bijak dalam sejarah mengatakan:

“My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her.” | Ibu saya adalah orang yang paling indah. Apapun yang saya capai saat ini saya berhutang padanya. Segala kemampuan, intelektual, dan peran yang saya curahkan, semua berasal darinya.

Hari ini adalah suatu masa dimana diperingati jasa, semangat kaum perempuan, emansipasi wanita, dalam rangka memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. 

Meskipun dalam perkembangannya saat ini, hari ibu dapat dimaknai jasa dalam berbagai hal, termasuk dalam urusan rumah tangga, karier dan berbagai pencapaiannya dalam kehidupan seorang ibu.

Selamat Hari Ibu yang ke 91 tahun, meskipun jauh di negeri orang, semoga senantiasa sehat selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.
Perempuan Berdaya, Indonesia MAJU!

Semoga bermanfaat

Kompasiana : 22 Desember 2019   07:45 Diperbarui: 22 Desember 2019   09:38  300  13 9

*) Civil Engineering: Discrete Element, Engineering Mechanics, Finite Element Method, Material Engineering, Structural Engineering,

Beijing University of Aeronautics and Astronautics, Beijing. 601B号房间, 1号楼, 外国留学生宿舍, 北京航空航天大学 北京市海淀区学院路, 37學院路, 邮编:100083. Office: Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering YSU, Kampus Karangmalang, Depok – Sleman Yogyakarta Special Region 55281


Copyright @FQM2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Saudi Rilis Data Visa Kunjungan Umrah

Sat Dec 28 , 2019
Share […]
Tentang Hiramedia: Napak Tilas Menjelang Seabad Hari Ibu Indonesia

Sebagai Web/Blog :

  1. 1.Media Informasi : Menyampaikan gagasan, ide dan informasi seputar isu-isu mutakhir sosial politik, khususnya di dunia Islam yang dirangkum dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional.
  2. Media Publikasi : Menerbitkan riset dan penelitian para profesional dan pakar di bidangnya untuk dimanfaatkan masyarakat luas.
  3. Media Edukasi : Menghadirkan berbagai sumber informasi dan bacaan  yang edukatif dan inovatif kepada pembaca dengan prinsip menjunjung tinggi perbedaan dalam bingkai kebinnekaan dan  toleransi sesuai semangat keislaman serta keindonesiaan yang berdasarkan Pancasila.

HIRAMEDIA KONTAK : hiramedia45@gmail.com

Close Ads Here
Close Ads Here